DetikFakta86.com|Bitung – Dugaan Aktivitas bongkar muat BBM jenis Bio Solar kembali menjadi sorotan. Pada Sabtu malam (14/02/2026) sekitar pukul 21.07 WITA, kegiatan pemindahan BBM ke kapal KM Saparua 22 terpantau berlangsung di dalam Dermaga Saricakalang. Aktivitas tersebut diduga kuat berkaitan dengan jaringan distribusi dan penimbunan lintas wilayah yang selama ini beroperasi secara tertutup.
Nama Frendly Rompas mencuat sebagai figur sentral yang disebut-sebut mengendalikan perusahaan PT Nusantara Geo Energi Indonesia (NGEI).
Berdasarkan temuan di lapangan, Frendly diduga memiliki sejumlah gudang penimbunan di berbagai titik strategis, dengan menggunakan nama berbeda sebagai pengendali di masing-masing lokasi.
Di Kelurahan Sagrat, gudang disebut menggunakan nama Josua Paat. Di Kelurahan Kema, muncul nama Haji Arif. Sementara gudang yang berada di belakang Summer Eat Cafe, Desa Kembuan, Kecamatan Tondano Utara, disebut dikendalikan atas nama Rico dan Baco. Di wilayah Minahasa Utara, nama Daeng Azwar disebut sebagai pengendali. Pola ini diduga sengaja dibentuk untuk memecah jejak dan menghindari keterkaitan langsung dengan aktor utama.
Bahkan, di tengah mencuatnya temuan tersebut, nama Bril disebut sebagai “tameng” baru yang diposisikan untuk meredam sorotan terhadap dugaan praktik penimbunan dan distribusi Bio Solar.
Dalam pengakuannya, Bril menyatakan bahwa PT NGEI tidak memiliki gudang penimbunan dan hanya membeli pasokan Bio Solar dari Haji Farhan, yang mengendalikan PT Srikarya Lintasindo (PT SKL) dengan gudang di wilayah Madidir belakang Kodim.
“Kita yang pegang PT Geo sekarang, nyanda buka gudang penimbunan. Hanya beli pasokan BBM Bio Solar dari Haji Farhan PT SKL, gudang di Madidir belakang Kodim,” ujar Bril.
Namun, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan keterangan Enal, salah satu pekerja di lapangan. Ia justru menyebut bahwa pasokan Bio Solar berasal dari gudang penimbunan di Kema dan Sagrat.
“Pasokan BBM Bio Solar dari gudang Kema, ada lagi dari gudang Sagrat. Bacerita jo deng Bril, tako salah menyampaikan,” beber Enal.
Kontradiksi keterangan ini semakin mempertegas adanya dugaan rantai distribusi tertutup yang belum sepenuhnya terungkap.
Sementara itu, Haji Farhan saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membantah keras tudingan bahwa BBM tersebut berasal dari perusahaannya.
“Nda ada pak, minyak bukan dari kami. Minta invoicenya pak,” tegasnya.
Pernyataan tersebut justru membuka ruang pertanyaan baru: jika bukan dari PT SKL, lalu dari mana asal pasokan Bio Solar yang dibongkar muat di Dermaga Saricakalang malam itu?
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Bitung, Ahmad Anugrah, saat dikonfirmasi terkait aktivitas tersebut menyatakan akan melakukan pengecekan. “Selamat malam, terima kasih infonya. Dicek yah,” singkatnya.
Namun hingga berita ini diturunkan dan aktivitas di lapangan berakhir, tidak terlihat adanya kehadiran personel aparat di lokasi kegiatan.
Publik kini menunggu langkah konkret aparat penegak hukum. Aktivitas bongkar muat BBM bersubsidi pada malam hari di area dermaga bukan persoalan sepele. Jika benar terdapat praktik penimbunan dan distribusi ilegal, maka ini bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan dugaan pelanggaran serius yang merugikan negara dan masyarakat luas.
Transparansi asal-usul pasokan, legalitas distribusi, hingga keterlibatan para pihak menjadi ujian nyata bagi penegakan hukum di daerah ini. Tanpa tindakan tegas, praktik semacam ini berpotensi terus berulang di bawah bayang-bayang.
Sumber berita dari KP dan tim Wartawan kota Bitung saat melakukan investigasi kegiatan bongkar muat BBM dugaan ilegal. (TIM)
Belum ada komentar untuk PT Nusantara Geo Energi Indonesia Diduga Lakukan Bongkar Muat Bio Solar Ilegal di Saricakalang, Frendly Rompas Disebut Aktor Utama